Jakarta, RMexpose. Melihat kondisi BUMN terus merugi sepanjang tahun 2009, saya pikir ini tidak bisa dibiarkan terlalu, karena keadaan kita akan terus tergerogoti apabila keadaan BUMN selalu merugi tiap tahunnya. Jadi untuk menekan hal ini di tahun 2010 harus ada benchmarks atau tolak ukur yang jelas buat BUMN, sehingga kedepannya tidak ada lagi kerugian-kerugian yang terjadi di BUMN.
Nah tolak ukur tersebut yang harus ditekankan ke seluruh direksi. Salah satunya dengan memasang target. Apabila mereka gagal memenuhi target dalam meraih keuntungan disetiap tahunnya, ganti dan copot dengan manajemen yang baru.
Kalau misalnya dari rance nilai nol satu sampai 10 BUMN kita cuma dapat empat, padahal kalau perusahaan-perusahaan swasta sejenis bisa mendapatkan delapan, seharusnya BUMN ditargetkan minimal enam. Kalau tidak sampai enam ya sudah kita digerogoti terus.
Kalau kita bandingkan saat ini satu BUMN Petronas milik Malaysia labanya lebih besar dari seluruh BUMN yang ada di Indonesia sangat tidak masuk diakal. Bila dicontohkan lagi laba dari perusahaan swasta perkebunan itu bisa lebih besar dari PTPN kita, padahal PTPN kita luas tanahnya jutaan hektare dan aksesnya sangat strategis masa bisa kalah. Berarti ada manajement yang tidak benar di dalamnya.
Ini moment yang paling penting bagi pemerintah untuk menargetkan keuntungan yang harus diperoleh BUMN-BUMN yang ada di Indonesia. Jadi BUMN sekarang kontribusinya tidak saja cuma memberikan deviden ke pemerintah, tapi mainset-nya harus kita rubah. Jadi tujuan BUMN harus jadi penggerak sektor ekonomi. Karena kalau kita lihat negara lain bisa kenapa negara kita tidak? Nah hal inilah yang harus di perhatikan, agar kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan dapat kita tekan sedini mungkin.
Kita harus ingat BUMN saat ini bukan sapi perah lagi. Ini harus dicamkam di kalangan pengambilan keputusan. Karena kerap terjadi setiap pergantian pemerintahan, maka BUMN milik penguasa, terutama untuk BUMN sekelas Pertamina. Dan, selalu setiap pergantian pemerintahan selalu juga dibarengi dengan pergantian direksi yang selalu disesuaikan dengan selera penguasa. Ini harus dicegah sedini mungkin.
Semua pihak, baik pemerintah, DPR maupun para politisi harus memiliki pemikiran untuk memajukan, mengembangkan agar BUMN menjadi pemain ekonomi kelas global. Bukan pemain ekonomi yang jago kandang. Kalau kelasnya jago kandang, maka BUMN tidak akan pernah maju. Boro-boro mau seperti Petronas, jadi seperti saat ini saja mungkin sudah bagus.
Sumber: Rakyat Merdeka, Jumat 19/2



Februari 19th, 2010
Redaksi
Posted in 